Kedudukan Wanita dalam Islam

Penulis membahas masalah ini, karena orang-orang yang tidak senang kepada
Islam dan orang-orang bodoh menganggap bahwa Islam merendahkan martabat
wanita. Hal ini berkaitan dengan dianjurkannya wanita berada di rumah,
wajibnya mereka memakai jilbab, wajibnya mereka melayani suami,
diterimanya persaksian dua orang wanita sedangkan laki-laki cukup seorang
saja, hak waris wanita separuh dari hak laki-laki, atau ketidak-senangan
mereka hanya disebabkan Islam membolehkan seorang laki-laki ta’addud
(poligami/ beristeri lebih dari satu). Padahal dengan dibolehkannya
poligami jutru mengangkat martabat wanita.

Bagaimana pun, seorang wanita yang bersuami lebih baik daripada wanita
yang hidup sebagai perawan tua, hidup menjanda, atau bahkan bergelimang
dengan dosa lagi menghinakan diri dengan hidup melacur. Bahkan, ada wanita
yang jahat dan zhalim mengatakan kepada suaminya, “Lebih baik engkau
berzina/melacur daripada aku dimadu.” Na’udzu billaahi min dzalik.

Dalam Islam, seorang laki-laki jutru lebih baik dan mulia jika ia menikah
lagi (berpoligami) daripada ia berzina/melacur. Karena zina adalah
perbuatan keji dan sejelek-jelek jalan. Namun bila tak mampu berpoligami, takut tidak adil, dan membawa mudharat dalam keluarga, lebih baik monogami. Allah Ta’ala berfirman:

“Dan janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh suatu perbuatan
keji, dan suatu jalan yang buruk.” [Al-Israa’ : 32]

Sedangkan keberadaan pelacuran dan wanita tuna susila (pelacur) justru
merendahkan dan melecehkan martabat wanita, juga sebagai bentuk penghinaan
kepada wanita serta menjerumuskan mereka ke Neraka.

Di muka bumi ini tidak ada agama yang sangat memperhatikan dan mengangkat
martabat kaum wanita selain Islam. Islam memuliakan wanita dari sejak ia
dilahirkan hingga ia meninggal dunia.

Islam benar-benar telah mengangkat harkat dan martabat kaum wanita dan
memuliakannya dengan kemuliaan yang belum pernah dilakukan oleh agama
lain. Wanita dalam Islam merupakan saudara kembar laki-laki; sebaik-baik
mereka adalah yang terbaik bagi keluarganya. Wanita muslimah pada masa
bayinya mempunyai hak disusui, mendapatkan perhatian dan sebaik-baik
pendidikan dan pada waktu yang sama ia merupakan curahan kebahagiaan dan
buah hati bagi kedua ibu dan bapaknya serta saudara laki-lakinya.

Apabila wanita telah memasuki usia remaja, ia dimuliakan dan dihormati.
Walinya cemburu karenanya, ia meliputinya dengan penuh perhatian, maka ia
tidak rela kalau ada tangan jahil menyentuhnya, atau rayuan-rayuan lidah
busuk atau lirikan mata (pria) mengganggunya.

Dan apabila ia menikah, maka hal itu dilaksanakan dengan kalimatullah dan
perjanjian yang kokoh. Maka ia tinggal di rumah suami dengan pendamping
setia dan kehormatan yang terpelihara, suami berkewajiban menghargai dan
berbuat baik (ihsan) kepadanya dan tidak menyakiti fisik maupun
perasaannya.

Apabila ia telah menjadi seorang ibu, maka (perintah) berbakti kepadanya
dinyatakan berbarengan dengan hak Allah, kedurhakaan dan perlakuan buruk
terhadapnya selalu diungkapkan berbarengan dengan kesyirikan kepada Allah
dan perbuatan kerusakan di muka bumi.

Apabila ia adalah sebagai saudara perempuan, maka dia adalah orang yang
diperintahkan kepada saudaranya untuk dijalin hubungan silaturrahim,
dimuliakan dan dilindungi.

Apabila ia sebagai bibi, maka kedudukannya sederajat dengan ibu kandung di
dalam mendapatkan perlakuan baik silaturrahim.

Apabila ia sebagai nenek atau lanjut usianya, maka kedudukan dan nilainya
bertambah tinggi di mata anak-anak, cucu-cucunya dan seluruh kerabat
dekatnya. Maka permintaannya hampir tidak pernah ditolak dan pendapatnya
tidak diremehkan.

Apabila ia jauh dari orang lain, jauh dari kerabat atau pendampingnya maka
dia memiliki hak-hak Islam yang umum, seperti menahan diri dari perbuatan
buruk terhadapnya, menahan pandangan mata darinya dan lain-lain.

Masyarakat Islam masih tetap memelihara hak-hak tersebut dengan
sebaik-baiknya sehingga wanita benar-benar memiliki nilai dan kedudukan
yang tidak akan ditemukan di dalam masyarakat non muslim.

Lebih dari itu, wanita di dalam Islam memiliki hak kepemilikan, penyewaan,
jual beli, dan segala bentuk transaksi, dan juga mempunyai hak untuk
belajar dan mengajar selagi tidak bertentangan dengan agamanya. Bahkan di
antara ilmu syar’i itu ada yang bersifat fardhu ‘ain -berdosa bila
diabaikan- baik oleh laki-laki atau pun wanita.

Dia juga memiliki hak-hak yang sama dengan kaum laki-laki, kecuali
beberapa hak dan hukum yang memang khusus bagi kaum wanita, atau beberapa
hak dan hukum yang khusus bagi kaum laki-laki yang layak bagi
masing-masing jenis sebagaimana dijelaskan secara rinci di dalam
bahasan-bahasannya.

Di antara penghargaan Islam kepada wanita adalah bahwasanya Islam
memerintahkan kepadanya hal-hal yang dapat memelihara, menjaga
kehormatannya dan melindunginya dari lisan-lisan murahan, pandangan mata
pengkhianat dan tangantangan jahat. Maka dari itu, Islam memerintahkan
kepadanya berhijab dan menutup aurat, menghindari perbuatan tabarruj
(berhias diri untuk umum), menjauh dari perbauran dengan laki-laki yang
bukan mahramnya dan dari setiap hal yang dapat menyeret kepada fitnah.

Termasuk penghargaan Islam kepada wanita adalah bahwasanya Islam
memerintahkan kepada suami agar menafkahinya, mempergaulinya dengan baik,
menghindari perbuatan zhalim dan tindakan menyakiti fisik atau
perasaannya.

Bahkan termasuk dari keindahan ajaran Islam bahwasanya Islam
memperbolehkan bagi kedua suami-isteri untuk berpisah (bercerai) bila
tidak ada kesepakatan dan tidak dapat hidup bahagia bersamanya. Maka,
suami boleh menceraikannya setelah gagal melakukan berbagai upaya ishlah
(damai), dan di saat kehidupan keduanya menjadi bagaikan api Neraka yang
tidak dapat dipertahankan.

Dan Islam memperbolehkan isteri meninggalkan suaminya jika suami melakukan
penganiayaan terhadap dirinya, memperlakukannya dengan buruk. Maka dalam
keadaan seperti itu isteri boleh meninggalkannya dengan syarat membayar
ganti rugi yang disepakati bersama suami, atau melakukan kesepakatan
bersama atas hal tertentu untuk kemudian isteri bisa meninggalkannya.

Termasuk penghargaan Islam kepada wanita adalah bahwasanya laki-laki
diperbolehkan berpoligami, yaitu nikah lebih dari satu isteri. Laki-laki
boleh menikah dengan dua, tiga atau empat isteri dan tidak boleh lebih
dari itu, dengan syarat berlaku adil dalam memberikan nafkah sandang,
pangan, dan tempat tinggal di antara mereka; dan kalau suami cukup menikah
dengan satu isteri saja, maka itu adalah haknya.

Itu semua, sesungguhnya berpoligami itu mempunyai hikmah yang sangat besar
dan banyak maslahatnya yang tidak diketahui oleh orang-orang yang
menjelek-jelekkan Islam, sementara mereka bodoh tidak mengerti hikmah di
balik pensyari’atan ajaran-ajarannya.

Di antara hal-hal yang mendukung hikmah di balik diperbolehkannya
berpoligami adalah sebagai berikut:

1). Sesungguhnya Islam melarang perzinaan dan sangat keras dalam
mengharamkannya, karena perzinaan dapat menimbulkan kerusakan-kerusakan
fatal yang tidak terhitung jumlahnya, di antaranya adalah: kaburnya
masalah keturunan (nasab), membunuh sifat malu, menodai dan menghapus
kemuliaan dan kehormatan wanita; karena zina akan meliputinya dengan
kehinaan yang tiada batasnya, bahkan kehinaan dan noda akan menimpa
keluarga dan kerabat dekatnya.

Di antara bahaya zina adalah bahwasanya zina merupakan tindakan pelecehan
terhadap janin yang diperoleh dari hasil perzinaan, karena ia akan hidup
dengan nasab yang terputus.

Termasuk bahaya zina: berbagai penyakit mental dan jasmani yang timbul
sebagai akibat dari perbuatan terkutuk itu, yang sulit ditanggulangi,
bahkan kadang sampai mengancam jiwa pezina, seperti Sipilis, Gonorheo,
Aids dan lain sebagainya.

Ketika Islam mengharamkan zina dan dengan keras mengharamkannya, ia juga
membuka lebar pintu yang sah (masyru’) dimana seseorang dapat merasakan
ketentraman, kedamaian, dan keleluasaan, yaitu nikah.

Jadi Islam mengajarkan nikah dan memperbolehkan poligami sebagaimana
disinggung di atas.

Tidak diragukan lagi bahwasanya melarang poligami adalah tindakan
kezhaliman terhadap laki-laki dan wanita. Melarang poligami akan membuka
lebar pintu perzinahan, karena kuantitas (jumlah) kaum wanita lebih besar
daripada kuantitas kaum pria di setiap masa dan tempat.

Hal itu akan lebih jelas lagi pada masa seringnya terjadi peperangan.
Maka, membatasi laki-laki menikah dengan satu isteri dapat berakibat pada
adanya jumlah besar dari kaum wanita yang hidup tanpa suami yang pada
gilirannya akan menyebabkan kesulitan, kesempitan, dan ketidakpastian bagi
mereka, bahkan kadang bisa menjerumuskan ke dalam lembah penjualan
kehormatan dan kesucian diri, tersebarnya perzinahan dan kesia-siaan anak
keturunan.

2). Sesungguhnya nikah itu bukan kenikmatan jasadi (fisik) semata, akan
tetapi dibalik itu terdapat ketentraman dan kedamaian jiwa, di samping
kenikmatan mempunyai anak. Dan anak di dalam Islam tidak seperti anak
dalam sistem-sistem kehidupan buatan lainnya, karena kedua ibu bapaknya
mempunyai hak atas anak. Apabila seorang wanita dikarunia beberapa anak,
lalu ia dididik dengan sebaik-baiknya, maka mereka menjadi buah hati dan
penghibur baginya. Maka pilihan mana yang terbaik bagi wanita; hidup di
bawah lindungan suami yang melindungi, mendampingi dan memperhatikannya
serta dikaruniai anak-anak yang apabila dididik dengan baik akan menjadi
buah dan penghibur hati baginya, atau memilih hidup sebatang kara dengan
nasib tiada menentu lagi terpontang-panting kesana-kemari?!

3). Sesungguhnya pandangan Islam adalah pandangan yang adil lagi seimbang.
Islam memandang kepada wanita secara keseluruhan dengan adil, dan
pandangan yang adil itu mengatakan bahwa sesungguhnya memandang kepada
wanita secara keseluruhan dengan mata keadilan.

Bila begitu, lalu apa dosa wanita-wanita ‘awanis (membujang hingga lewat
usia nikah) yang tidak punya suami? Kenapa tidak dilihat dengan mata yang
penuh kasih sayang kepada wanita menjanda karena ditinggal mati suaminya,
sedangkan ia masih pada usia produktif? Kenapa tidak melihat dan
memperhatikan kepada wanita yang sangat banyak jumlahnya yang hidup tanpa
suami?!

Yang mana yang lebih baik bagi wanita: Hidup dengan senang di bawah
lindungan suami bersama wanita (isteri, madu) yang lain, sehingga dengan
begitu ia merasakan kedamaian dan ketentraman jiwa, ia temukan orang yang
memperhatikannya dan mendapat karunia anak karenanya, ataukah hidup
seorang diri tanpa suami sama sekali??!!

Mana yang lebih baik bagi masyarakat: Adanya sebagian kaum pria yang
berpoligami hingga masyarakat terhindar dari beban gadis-gadis tua, atau
tidak seorang pun berpoligami sehingga mengakibatkan masyarakat berlumur
dengan berbagai kehancuran dan kerusakan??!!

Mana yang lebih baik: Seseorang mempunyai dua, tiga atau empat isteri?
Atau cukup dengan satu isteri saja dengan puluhan wanita simpanan di balik
itu semua?!

4). Berpoligami itu tidak wajib hukumnya. Maka dari itu banyak laki-laki
muslim yang tidak melakukan poligami karena merasa puas dengan satu
isteri, dan karena ia merasa tidak akan dapat berlaku adil (bila
berpoligami). Oleh karena itu, ia tidak perlu berpoligami.

5). Sesungguhnya tabi’at dan naluri kaum wanita itu sangat berbeda dengan
tabi’at dan naluri kaum pria; hal itu bila dilihat dari sudut kesiapannya
untuk digauli. Wanita tidak selalu siap untuk digauli pada setiap waktu,
karena wanita harus melalui masa haidh hingga sampai sepuluh hari atau dua
pekan pada setiap bulannya yang menjadi penghalang untuk digauli.

Pada masa nifas (setelah melahirkan) juga ada penghalang hingga biasanya
mencapai 40 hari. Melakukan hubungan suami-isteri (hubungan intim) pada
kedua masa tersebut dilarang secara syar’i, karena banyak mengandung
resiko yang membahayakan yang sudah tidak diragukan lagi.

Pada masa kehamilan, kesiapan wanita untuk dicampuri suaminya kadang
melemah. Dan demikian selanjutnya.

Sedangkan kaum laki-laki kesiapannya selalu stabil sepanjang bulan dan
tahun (waktu) dan ada sebagian laki-laki yang jika dihalanghalangi untuk
berpoligami akan terjerumus ke dalam perzinahan.

6). Adakalanya sang isteri mandul tidak dapat menurunkan anak sehingga
suami tidak dapat menikmati bagaimana punya anak. Daripada ia menceraikan
isterinya lebih baik ia menikah lagi dengan wanita lain yang subur.

Mungkin ada yang bertanya: Apabila suami mandul sedangkan isteri normal,
apakah isteri mempunyai hak untuk berpisah?

Jawabnya: Ya, ia berhak untuk itu jika menghendakinya.

7). Adakalanya isteri mengidap penyakit tahunan, seperti lumpuh atau
lainnya sehingga tidak mampu untuk melakukan tugas mendampingi suami.
Maka, daripada menceraikannya, lebih baik tetap bersamanya dan menikah
lagi dengan wanita yang lain.

8). Adakalanya tingkah laku isteri buruk. Seperti berperangai jahat,
berakhlak buruk (tidak bermoral) tidak menjaga hak-hak suaminya. Daripada
menceraikannya lebih baik tetap bersamanya dan menikah dengan wanita yang
lain lagi sebagai penghargaan kepada isteri pertama dan menjaga hak-hak
keluarganya serta menjaga kemaslahatan anak-anak jika telah punya anak
darinya.

9). Sesungguhnya kemampuan laki-laki untuk menurunkan keturunan
(produktifitas) lebih besar daripada kemampuan wanita. Laki-laki dapat
menurunkan anak hingga usia enam puluhan, bahkan kadang sampai pada usia
seratus ia tetap masih segar dan mampu menurunkan anak.

Sedangkan kemampuan wanita rata-rata berhenti sampai usia empat puluhan
atau lebih sedikit. Maka, mencegah poligami adalah perbuatan menghalangi
ummat dari mempunyai keturunan.

10). Di dalam pernikahan dengan isteri kedua terdapat tenggang waktu bagi
isteri pertama. Isteri mempunyai peluang waktu untuk sedikit beristirahat
dari beban-beban tugas melayani suami, karena telah ada orang yang
membantunya dan mengambil sebagian tugas melaksanakan beban melayani
suami.

Maka dari itu, ada sebagian wanita-wanita yang berakal, apabila telah
memasuki usia lanjut dan kurang mampu memberikan yang terbaik untuk
suaminya mereka memberi isyarat agar suaminya menikah lagi.

11). Mencari pahala. Adakalanya seseorang menikah lagi dengan wanita
miskin yang tidak mempunyai penanggung beban hidupnya, ia menikahinya
dengan maksud untuk menyelamatkan kesucian dan memberikan perlindungan
kepadanya, dengan harapan mendapat pahala dari Allah.

12). Sesungguhnya yang memperbolehkan berpoligami itu adalah Allah yang
sudah barang tentu lebih mengetahui mashlahat-mashlahat hamba-hamba-Nya
lagi lebih belas kasih terhadap mereka daripada mereka terhadap diri
sendiri.

Dengan demikian jelaslah bagi kita hikmah Islam dan universalitas
pandangannya di dalam memperbolehkan poligami dan sekaligus menjadi jelas
pula kebodohan orang-orang yang mencela ajaran-ajaran Islam.

Di antara penghargaan Islam kepada para wanita muslimah, bahwasanya Islam
menetapkan bagian khusus bagi wanita dari harta warisan. Maka seorang ibu
mendapat bagian tertentu, isteri, puteri, dan saudara perempuan pun
masing-masing mendapat bagian tertentu, sebagaimana dijelaskan dalam kitab
yang membahasnya.

Adalah merupakan kesempurnaan keadilan bahwasanya Islam menetapkan bagian
untuk wanita adalah separuh dari bagian laki-laki dari harta warisan.
Barangkali ada sebagian orang-orang yang picik akalnya mengira bahwa
pembagian tersebut merupakan kezhaliman (tidak adil), dengan mengatakan,
“Bagaimana bagian anak laki-laki sama dengan bagian dua anak perempuan
dari harta warisan? Kenapa bagian anak perempuan setengah dari bagian anak
laki-laki?”

Jawabnya adalah: Bahwa sesungguhnya yang memberikan ketetapan demikian itu
adalah Allah Yang Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui tentang
maslahat-maslahat para hamba-Nya.

Kemudian di mana letak kezhalimannya?! Sungguh, sistem (hukum) Islam itu
integral dan saling berkaitan. Maka bukan bagian dari keadilan bila hanya
mengambil satu sistem atau satu ketetapan hukum (tasyri’) lalu
memandangnya dari satu sudut tanpa mengaitkannya dengan bagian lainnya,
akan tetapi seharusnya melihatnya dari berbagai sudut sehingga gambaran
menjadi jelas dan keputusan menjadi lurus.

Hal yang menampakkan keadilan Islam di dalam masalah ini adalah bahwasanya
Islam menjadikan nafkah isteri itu sebagai kewajiban suami dan demikian
pula halnya mahar untuk isteri adalah kewajiban suami pula.

Sebagai contoh, kalau kiranya ada seseorang meninggal dunia dan
meninggalkan seorang anak laki-laki dan seorang anak perempuan. Maka anak
laki-laki mendapat dua kali lipat bagian saudara perempuannya (2 banding
1), lalu masing-masing menikah. Pada saat menikah, anak laki-laki itu
harus membayar mahar, menyediakan tempat tinggal, memberikan nafkah kepada
isteri dan anak-anaknya sepanjang hayatnya.

Sedangkan saudara perempuan akan mendapat mahar dari suaminya dan tidak
dituntut untuk memberikan sedikit pun dari harta miliknya untuk diserahkan
kepada suami, atau menafkahi urusan rumah tangganya, atau pun kepada
anak-anaknya. Maka, dengan demikian saudara perempuan dapat meng-himpun
bagian dari harta warisan dari ayahnya dengan mahar yang ia peroleh dari
suami, dan bersamaan dengan itu ia tidak dituntut untuk menafkahi diri dan
anak-anaknya.

Jika demikian, tidaklah adil jika laki-laki mendapat bagian yang sama
dengan anak perempuan.

Inilah kedudukan, harkat dan martabat wanita dalam Islam; lalu di mana
nilai dan derajat sistem-sistem buatan yang ada di muka bumi dibanding
sistem-sistem Islam yang samawi lagi adil. Sistem-sistem buatan yang ada
di muka bumi ini tidak memperhatikan harkat dan martabat kaum wanita, di
mana seorang ayah melepaskan diri dari anak perempuannya ketika mencapai
usia delapan belas tahun atau kurang, agar sang putri keluar dengan nasib
tiada menentu mencari tempat tinggal dan sesuap nasi untuk memenuhi rasa
laparnya, yang terkadang hal itu sampai mengorbankan dan menjual
kehormatan diri dan kemuliaan akhlak.

Bandingkanlah penghargaan Islam terhadap wanita yang telah menjadikannya
sebagai manusia yang mulia dari pada sistem-sistem yang memandang wanita
sebagai sumber kejahatan dan dosa, sistem yang telah merampas hak-haknya
di dalam kepemilikan dan tanggung jawab dan menjadikan wanita hidup
berlumur kehinaan dan kenistaan serta menganggapnya sebagai makhluk
najis?! Dan mana bandingan penghargaan Islam kepada wanita daripada
orang-orang yang menjadikan wanita sebagai barang dagangan yang
memperjualbelikan jasadnya di dalam berbagai promosi bisnis dan iklan?!

Mana bandingan penghargaan Islam kepada wanita daripada sistem-sistem yang
menganggap perkawinan sebagai transaksi jual-beli di mana isteri berpindah
supaya menjadi salah satu dari harta kekayaan suami? Hingga sebagian
pertemuan mereka yang diselenggarakan untuk mengkaji hakikat dan ruh
wanita, apakah ia termasuk manusia atau bukan?

Demikianlah kita melihat bahwa wanita muslimah merasakan kebahagiaan di
dunianya bersama keluarga, di bawah asuhan kedua orang tuanya, di bawah
perlindungan suaminya dan balas budi anak-anaknya, apakah itu ketika ia di
masa anak-anak, remaja atau di masa lanjut usia, dan di dalam kondisi
fakir maupun kaya dan sehat maupun sakit.

Kalau terdapat kejanggalan dalam hak-hak wanita yang terdapat di sebagian
negeri kaum muslimin, atau dari sebagian orang-orang yang menisbatkan diri
kepada Islam, maka semua itu terjadi karena keteledoran dan kebodohan
mereka serta karena jauh dari penerapan ajaran Islam. Kesalahan dan dosa
ditanggung oleh orang yang bersalah, sedangkan Islam bersih dan bebas dari
tanggung jawab kesalahan tersebut.

Penanggulangan kesalahan tersebut hanya dapat dilakukan dengan kembali
kepada petunjuk ajaran Islam, supaya kesalahan dapat terbenahi.

Inilah kedudukan, harkat dan martabat wanita di dalam Islam secara
singkat; kesucian diri, perlindungan, kasih sayang, cinta dan perhatian
serta berbagai macam nilai-nilai luhur lainnya.

Adapun peradaban sekarang hampir tidak mengenal sedikit pun dari
nilai-nilai luhur tersebut, ia hanya memandang wanita dengan pandangan
materialis murni. Peradaban modern memandang bahwasanya hijab wanita dan
kesucian dirinya sebagai ketertinggalan dan keterbelakangan, dan
bahwasanya wanita harus menjadi boneka yang dapat dipermainkan oleh setiap
laki-laki ‘mata keranjang’, dan itulah rahasia kebahagiaan menurut mereka.

Mereka tidak menyadari bahwasanya tabarruj dan telanjangnya kaum wanita
adalah sebab dari kesengsaraan dan siksaannya.

Karena jika tidak, lalu apa hubungan kemajuan dan pengajaran dengan
tabarruj, penampakan anggota-anggota badan wanita yang penuh dengan
fitnah, porno, pamer kecantikan, buka dada, paha dan hal yang lebih
dahsyat dari itu?!

Apakah memakai pakaian transparan, tembus pandang dan pendek itu bagian
dari alat-alat peraga pendidikan dan pengajaran??!

Kemudian, kemuliaan yang mana ketika foto-foto wanita-wanita cantik
ditampilkan dalam iklan-iklan, pornografi dan berbagai promosi??!

Kenapa yang laris di kalangan mereka hanya wanita-wanita cantik saja? Lalu
apabila kecantikan dan keindahannya itu sudah sirna mereka diabaikan dan
dicampakkan bagaikan barang yang sudah kadaluwarsa!?

Lalu apa bagian-bagian wanita yang kurang cantik dari peradaban modern
ini?! Apa bagian untuk ibu yang lanjut usia, nenek dan wanita-wanita
jompo?!

Sesungguhnya bagian mereka yang paling baik (menurut peradaban modern)
adalah ditempatkan di tempat-tempat penampungan dari panti-panti jompo di
mana mereka di sana tidak dikunjungi dan tidak juga ditanya tentang
keadaannya.

Memang ada di antaranya yang mendapat gaji pensiunan atau yang serupa
dengannya yang mereka habiskan hingga tutup usia, tetapi di sana tidak ada
hubungan silaturahim, tidak ada kerabat dekat, tidak pula teman setia.

Adapun wanita di dalam Islam, semakin lanjut usia mereka semakin
dihormati, semakin besar pula hak mereka dan semakin berlomba-lomba
anak-anak dan kerabat dekatnya untuk berbuat yang terbaik kepada mereka
-sebagaimana dikemukakan di atas- karena mereka telah selesai melakukan
tugasnya, dan yang tersisa adalah kewajiban anak-anak, cucu, keluarga dan
masyarakat terhadap mereka.

Sedangkan tuduhan dan anggapan bahwa hijab dan menjaga kesucian diri itu
sebagai tanda ketertinggalan dan keterbelakangan adalah tuduhan dan
anggapan bathil lagi palsu. Sesungguhnya tabarruj dan pamer kecantikan
itulah sebenarnya kesengsaraan dan adzab, dan itulah keterbelakangan yang
sebenarnya.

Bila pembaca ingin dalilnya bahwa tabarruj dan pamer kecantikan adalah
keterbelakangan, maka perhatikanlah dekadensi moral manusia yang tampak
pada orang-orang hina bugil yang serba telanjang, mereka yang hidup di
berbagai kenistaan yang mirip dengan keadaan hewan. Maka sesungguhnya
mereka tidak berjalan menuju tangga-tangga kebudayaan dan peradaban
kecuali sesudah mengenakan pakaian.

Orang yang memperhatikan dan mengikuti kondisi mereka di dalam kemajuannya
dapat melihat bahwa sesungguhnya setiap kali mereka meraih suatu kemajuan
di dalam peradaban, semakin bertambah pula prosentase wanita-wanita
telanjang, sebagaimana yang tampak bahwasanya peradaban barat sedang
berada di jalan menuju kehancurannya, mundur ke belakang selangkah demi
selangkah, hingga berakhir pada telanjang bulat, di kota-kota orang-orang
telanjang semakin luas sesudah perang dunia pertama. Kemudian penyakit itu
makin dan bertambah serius di tahun-tahun terakhir ini.

Demikianlah menjadi lebih jelas bagi kita betapa keagungan kedudukan,
harkat dan martabat wanita di dalam Islam adalah mulia dan terhormat.

[Disalin dari buku Bingkisan Istimewa Menuju Keluarga Sakinah, Penulis
Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Putaka A-Taqwa Bogor – Jawa Barat,
Cet Ke II Dzul Qa’dah 1427H/Desember 2006]

<sumber:tahajjud-call

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s