Zona Saya: Hukum Bersalaman Dengan Non-Mahram

Jadi cerita sebentar, kemaren ketika 1 muharram, Rohis STMIK MDP ngadain taklim akbar, saya mencoba bertanya sama ustaz yang ngisi acara mengenai bolehkah kita bersalaman dengan orang lain yang non-mahram dan jawabannya tidah boleh walaupun mereka sudah tua ataupun yang lainnya. Disini jujur saya sedikit ragu akan jawabannya, jadi saya usahakan mencari pembanding dari sumber-sumber mengenai hal ini. Dan akhirnya saya mendapatkan tulisan yang mungkin sangat penting sebagi perbandingan dan tambahan ilmu mengenai hukum bersalaman ini.

Berikut tanya jawab yang saya ambil langsung dari http://www.ainiaryani.com. Selamat membaca.

Pertanyaan:

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Ustadzah, sejak dulu saya sering kali merasa bimbang tentang hukum bersalaman dengan lawan jenis yang bukan mahram. Saya sering mendengar ceramah dari pengajian bahwa hal itu diharamkan, walau pun terhadap saudara sendiri, selama dia bukan mahram.

Akan tetapi bagaimana kalau kita bersalaman dengan kiyai pondok yang nota bene adalah guru ngaji kita sendiri. Masak sih hal itu diharamkan juga? Kan tidak ada syahwat atas hal itu.

Apalagi kadang saudara ipar laki-laki bertamu ke rumah, kan tidak etis rasanya kalo tidak menyambut uluran salamannya.

Mohon penjelasannya dalam masalah ini ustadzah, semoga Allah melimpahkan keberkahan atas ilmu yang telah Dia berikan kepada ustadzah. Demikian pertanyaan saya, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Siti Suryani, SE

Jawaban

Assalamualaikum warahmatulah wabarakatuh

Ibu Siti yang dirahmati Allah. Masalah yang Anda tanyakan memang merupakan hal yang sering terjadi saat ini, dan dalam beberapa keadaan terkadang sulit dihindari. Dan dalam menghukumi masalah ini hendaklah kita tidak begitu saja memvonis dengan mutlak (baik haram mutlak, ataupun halal mutlak) sebelum menelaah lebih jauh sumber-sumber syariah yang ada.

Pendapat Para Ulama

Hukum berjabat tangan lazimnya dimasukkan dalam kategori masalah bersentuhan kulit antar lawan jenis. Hukum asalnya adalah tidak boleh, sebagaimana dalil-dalil yang menyatakan keharaman hukumnya. Seperti:

1. Hadits:

Dari Ma`qil bin Yasar dari Nabi saw., beliau bersabda: “Sesungguhnya ditusuknya kepala salah seorang diantara kamu dengan jarum besi itu lebih baik daripada ia menyentuh wanita yang tidak halal baginya.”(HR. Thabrani dan Baihaqi)

2. Sabda Rasulullah:

“Siapa yang menyentuh telapak tangan wanita tanpa alasan yang membolehkan, maka akan diletakkan di atas tangannya bara di hari kiamat”.

3. juga kaidah fiqih dan dalil-dalil yang secara umumnya mengharamkan sentuhan kulit antara laki-laki dan wanita yang bukan mahram sebagai sarana menutup pintu fitnah (saddudz-dzari`ah)

Namun, ternyata ada pula ulama yang membolehkan sentuhan kulit antar laki-laki dan perempuan dalam keadaan-keadaan tertentu, dengan dalil-dalil sebagai berikut:

a. Firman Allah:

“Dan perempuan-perempuan tua yang telah terhenti (dari haid dan mengandung) yang tiada ingin kawin (lagi), tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian mereka dengan tidak (bermaksud) menampakkan perhiasan, dan berlaku sopan adalah lebih baik bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (an-Nur: 60)

Ayat diatas menjelaskan pengecualian atas perempuan-perempuan tua yang sudah berhenti (dari haid dan mengandung), dan tidak lagi memiliki gairah terhadap laki-laki.

b. Firman Allah:

“…Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita …”(an-Nur: 31)

Dikecualikan pula laki-laki yang tidak memiliki gairah terhadap wanita dan anak-anak kecil yang belum muncul hasrat seksualnya. Mereka dikecualikan dari sasaran larangan terhadap wanita-wanita mukminah.

c. Hadits, dalam Kitab Shahih Bukhari ‘Kitab al-Adab’:

“Dari Anas bin Malik r.a., ia berkata: `Sesungguhnya seorang budak wanita diantara budak-budak penduduk Madinah memegang tangan Rasulullah saw., lalu membawanya pergi ke mana ia suka.” (HR. Bukhari)

Jika kita perhatikan riwayat yang sahih dari Rasulullah saw, niscaya kita jumpai sesuatu yang menunjukkan bahwa semata-mata bersentuhan tangan antara laki-laki dengan perempuan tanpa disertai syahwat dan tidak dikhawatirkan terjadinya fitnah tidaklah terlarang, bahkan pernah dilakukan oleh Rasulullah saw., dan pada dasarnya apa yang dilakukan Nabi saw itu adalah sebuah tasyri`.

d. Hadits, dalam Kitabul jihad Was-Sair bab Ad-du`au biljihadi Wasysyahadatu lirrijali wannisa` no. 2580 dan Kitabul Isithsan no. 5810:

“Dari Anas bahwa Nabi saw. masuk ke rumah Ummu Haram binti Milhan dan beliau diberi makan. Ummu Haram adalah istri Ubadah bin Shamit, dan Ummu Haram membersihkan kepala beliau (dari kutu) lalu Rasulullah SAW tertidur…” (HR Bukhari).

e. Hadits dalam Kitab Al-Jihadu Was-Sair bab Fadhlu Man Yusri`u Fi sabilillah, no. 2590:

“Dari Anas dari bibinya Ummu Haram binti Milhan, Ummu Haram berkata,`Rasulullah SAW tidur di dekat aku lalu bangun dan tersenyum …” (HR Bukhari).

f. Hadits dalam kitab Shahih Bukhari:

Diceritakan bahwa Nabi saw. tidak pernah masuk ke tempat wanita selain istri-istri beliau, kecuali kepada Ummu Sulaim. Lalu beliau ditanya mengenai masalah itu, dan beliau menjawab: “Saya kasihan kepadanya, saudaranya terbunuh dalam peperangan bersama saya”, Saudara Ummu Sulaim bernama Haram bin Milhan, yang terbunuh pada waktu peperangan Bi`r Ma`unah.` (HR. Bukhari)

Jalan Tengah Dalam Pengambilan Hukumnya

Ibu Siti yang dimuliakan Allah, mungkin agak bingung rasanya dengan adanya dalil-dalil yang kontradiktif, juga mengenai perbedaan pendapat ulama yang ada. Ibu tidak usah bingung, karena kita bisa menarik tali penghubung diantara dalil-dalil diatas, tentunya setelah mengupas lebih dalam mengenai dalil-dalil diatas. Titik singgungnya adalah: Hukum asal bersentuhan kulit antara laki-laki dan wanita adalah haram, kecuali dalam keadaan-keadaan tertentu.

Mengutip fatwa ahli fiqih kontemporer Dr. Yusuf al-Qardhawi dalam ‘Fatawa Mu`ashirah’:

Pertama, bahwa berjabat tangan antara laki-laki dan perempuan itu hanya diperbolehkan apabila tidak disertai dengan syahwat serta aman dari fitnah. Apabila dikhawatirkan terjadi fitnah terhadap salah satunya, atau disertai syahwat dan taladzdzudz (berlezat-lezat) dari salah satunya (apa lagi keduanya) maka keharaman berjabat tangan tidak diragukan lagi.

Bahkan seandainya kedua syarat ini tidak terpenuhi (yaitu tiadanya syahwat dan aman dari fitnah) meskipun jabatan tangan itu antara seseorang dengan mahramnya seperti bibinya, saudara sesusuan, anak tirinya, ibu tirinya, mertuanya, atau lainnya, maka berjabat tangan pada kondisi seperti itu adalah haram. Bahkan berjabat tangan dengan anak yang masih kecil pun haram hukumnya jika kedua syarat itu tidak terpenuhi.

Kedua, hendaklah berjabat tangan itu sebatas ada kebutuhan saja, yaitu dengan kerabat atau besan yang terjadi hubungan yang erat dan akrab diantara mereka; dan tidak baik hal ini diperluas kepada orang lain, demi membendung pintu kerusakan, menjauhi syubhat, mengambil sikap hati-hati, dan meneladani Nabi saw. Tidak ada riwayat kuat yang menyebutkan bahwa beliau pernah berjabat tangan dengan wanita lain (yang bukan kerabat atau tidak mempunyai hubungan yang erat).

Dan yang lebih utama bagi seorang muslim atau muslimah yang komitmen pada agamanya ialah tidak memulai berjabat tangan dengan lain jenis. Tetapi, apabila diajak berjabat tangan barulah ia menjabat tangannya.

Saya (Dr. Yusuf a-Qardhawi) tetapkan keputusan ini untuk dilaksanakan oleh orang yang memerlukannya tanpa merasa telah mengabaikan agamanya, dan bagi orang yang telah mengetahui tidak usah mengingkarinya selama masih ada kemungkinan untuk berijtihad.

Penutup

Nah, Ibu Siti yang dimuliakan Allah, setelah menelaah hal-hal diatas tadi semoga kebingungan Ibu terjawab sudah.

Dan sebelum menutup pembicaraan ini, kami ingin menggaris bawahi bahwa jawaban diatas bersifat dokumentatif yang disarikan dari beberapa sumber dan pendapat para yuris Islam, bukan bermaksud untuk menghalalkan yang haram ataupun sebaliknya. Juga bukan meniatkan diri untuk membuat sensasi yang membuat heboh dengan memberikan wacana lain yang berbeda dengan wacana hukum asal dari masalah ini.

Lebih dari itu semua, perbedaan pendapat adalah satu fenomena dalam syariah, dimana perbedaan pendapat justru dapat menjadi rahmat yang membuat syariah menjadi dinamis dan aplikatif dari zaman ke zaman, dan dari satu tempat ke tempat yang lain. Wallahu a`lam Bishshowab.

Wassalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh.
Aini Aryani, LLB (Hons)

6 Comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s