Menghitung Valuasi Startup: Seni dan Ilmu di Balik Angka Besar

cara menghitung valuasi startup

Ketika bicara tentang valuasi startup, sering kali kita mendengar angka-angka fantastis yang bikin geleng-geleng kepala. Tapi di balik angka besar itu, gimana caranya valuasi startup dihitung? Apakah ada rumus pasti, atau ini lebih mirip seni dengan sedikit elemen matematika? Jawabannya adalah kombinasi keduanya. Dalam artikel ini, kita nggak cuma akan bahas berbagai metode perhitungan valuasi startup, tapi juga akan langsung lihat contoh konkret untuk tiap metode biar lebih gampang dipahami.

1. Comparable Valuation Method

Metode ini menggunakan pendekatan membandingkan valuasi startup yang mirip di industri yang sama. Investor melihat rasio seperti pendapatan terhadap valuasi (revenue multiple) atau EBITDA terhadap valuasi (EBITDA multiple) dari perusahaan lain untuk menentukan valuasi.

Contoh:

Sebuah startup SaaS baru menghasilkan pendapatan tahunan $2 juta. Di industri ini, startup biasanya punya revenue multiple sekitar 10x.

Perhitungan:

Valuasi Startup = Pendapatan Tahunan x Revenue Multiple

= $2 juta x 10

= $20 juta.

Ini artinya, jika startup ini punya model bisnis serupa dengan kompetitornya dan pasarnya cukup besar, valuasi mereka bisa diestimasi sebesar $20 juta.

2. Discounted Cash Flow (DCF) Method

Metode ini menghitung valuasi berdasarkan proyeksi arus kas masa depan (future cash flows) yang didiskon ke nilai saat ini (present value). Teknik ini cocok untuk startup yang sudah menghasilkan pendapatan stabil.

Contoh:

Startup memproyeksikan arus kas bersih sebesar $500.000 per tahun selama 5 tahun ke depan. Setelah 5 tahun, mereka mengharapkan pertumbuhan arus kas 3% per tahun (terminal growth rate). Tingkat diskonto (discount rate) ditentukan sebesar 10%.

Perhitungan:

1. Hitung nilai sekarang dari arus kas 5 tahun:

PV = Σ (Cash Flow / (1 + Discount Rate)^t)

PV = ($500.000 / 1.1) + ($500.000 / 1.1²) + ($500.000 / 1.1³) + ($500.000 / 1.1⁴) + ($500.000 / 1.1⁵)

PV = $1.90 juta.

2. Hitung terminal value (TV) setelah 5 tahun:

TV = (Cash Flow di Tahun 5 x (1 + Growth Rate)) / (Discount Rate – Growth Rate)

TV = ($500.000 x 1.03) / (0.10 – 0.03)

TV = $7.36 juta.

3. Diskon terminal value ke nilai saat ini:

PV Terminal Value = TV / (1 + Discount Rate)^5

PV Terminal Value = $7.36 juta / (1.1⁵)

PV Terminal Value = $4.57 juta.

4. Total valuasi:

Valuasi = PV + PV Terminal Value

Valuasi = $1.90 juta + $4.57 juta

= $6.47 juta.

3. Berkus Method

Metode ini digunakan untuk startup tahap awal yang belum menghasilkan pendapatan. Penilaian didasarkan pada faktor-faktor seperti ide, prototipe, tim, dan potensi pasar, dengan nilai maksimal untuk masing-masing faktor.

Contoh:

Startup kamu sedang mengembangkan aplikasi kesehatan dengan prototipe yang sudah diuji. Berikut nilai yang diberikan:

• Ide: $500.000

• Prototipe: $750.000

• Tim: $1 juta

• Hubungan dengan pasar: $500.000

• Potensi pertumbuhan: $750.000

Perhitungan:

Valuasi Startup = Total nilai dari semua faktor

= $500.000 + $750.000 + $1 juta + $500.000 + $750.000

= $3,5 juta.

4. Venture Capital (VC) Method

Metode ini populer di kalangan VC karena mereka fokus pada ROI (return on investment) dari investasi mereka. Rumusnya adalah:

Valuasi = Target Nilai Exit / ROI yang Diinginkan

Contoh:

Seorang VC ingin investasi di startup dengan target exit sebesar $50 juta dalam 5 tahun. VC mengharapkan ROI sebesar 10x.

Perhitungan:

Valuasi Startup = Target Nilai Exit / ROI

= $50 juta / 10

= $5 juta.

Artinya, VC akan menilai startup saat ini sebesar $5 juta untuk mencapai ROI yang mereka targetkan.

5. Cost-to-Duplicate Method

Metode ini menghitung valuasi berdasarkan biaya yang diperlukan untuk “menduplikasi” startup. Fokusnya adalah pada aset dan investasi yang sudah dilakukan.

Contoh:

Startup kamu sudah menghabiskan:

• $1 juta untuk pengembangan teknologi,

• $500.000 untuk riset pasar,

• $250.000 untuk membangun tim,

• Total biaya: $1.75 juta.

Perhitungan:

Valuasi Startup = Total biaya penggandaan

= $1.75 juta.

Namun, metode ini sering dianggap kurang adil karena nggak mencerminkan potensi pertumbuhan atau nilai pasar.

Faktor yang Memengaruhi Valuasi

Setiap metode perhitungan bisa memberikan angka berbeda tergantung faktor yang dipertimbangkan. Beberapa hal yang paling memengaruhi valuasi meliputi:

1. Potensi pasar: Startup dengan pasar besar cenderung punya valuasi lebih tinggi.

2. Tim: Founder dan tim yang berpengalaman bisa menarik perhatian investor.

3. Momentum: Startup yang sedang hype biasanya lebih mudah mendapatkan valuasi tinggi.

4. Kompetisi: Keunggulan kompetitif bisa meningkatkan nilai startup, terutama jika sulit ditiru.

Pelajaran dari Dunia Startup

Menghitung valuasi startup itu bukan hanya soal angka, tapi juga soal narasi. Investor nggak cuma mau lihat laporan keuangan, tapi juga cerita tentang kenapa startup ini penting dan punya masa depan cerah. Valuasi tinggi memang terlihat menarik, tapi itu juga membawa ekspektasi besar. Jadi, baik founder maupun investor harus realistis dalam menentukan angka.

Startup seperti Gojek atau Tokopedia berhasil karena mereka punya kombinasi narasi kuat, pasar besar, dan eksekusi yang solid. Sebaliknya, kasus seperti WeWork mengingatkan kita bahwa valuasi besar tanpa model bisnis yang sehat bisa jadi bumerang. Pada akhirnya, valuasi bukan tujuan akhir, tapi alat buat mencapai pertumbuhan yang berkelanjutan.

Dengan memahami berbagai metode dan faktor di balik valuasi, kita bisa lebih bijak dalam menilai potensi sebuah startup. Dan yang terpenting, jangan pernah terjebak hanya pada angka besar. Lihat selalu cerita dan fundamental di baliknya.

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.